“Riyani, bersediakah engkau jadi kawan dalam hidup sampai matiku? Izinkan aku mencium sebutir debu yang melekat pada ujung kakimu sebagai tanda tulusnya perasaan ini padamu.”
Itu adalah kalimat terakhir yang kuucapkan-kungkapkan kepada Riyani. Perempuan yang kukagumi. Perempuan yang dengan hadirnya menjadikanku mau berlama-lama hanya untuk sekadar memandangi cantik pada rupanya. Bunga suci Kampung Kerapuh yang terkenal akan baik pada budinya. Namun, sekian lama pengungkapan itu dinyatakan dan belum sekali pun kabar dari dirinya memberikan jawaban atas ungkapanku itu.
Begitu terdengarkan olehnya, tiada kudapati sepatah kata pun dari mulutnya. Tiada pertanda menanggapi pada sorot matanya. Hanya nampak raga yang balik kanan dan melangkah cepat untuk pergi. Meninggalkan aku seorang diri. Terduduk pada bumi dengan bunga kenanga masih tergenggam tanganku yang semakin layu meninggalkan keindahannya. Sebuah sore yang membuatku jadi orang dengan penuh tanda tanya. Menantikan jawaban di setiap waktunya. Berharap ada angin segar membawa kabar baik dari Riyani. Oh, Riyani, pujaan hatiku. Kutunggui jawabmu.
Malam pada Kerapuh saat ini begitu gelap. Baru sekali ini aku melintasi kampung Riyani tinggal setelah satu bulan yang lalu. Pada rumah-rumahnya tiada menggunakan lampu bernyala putih. Semuanya menggunakan lampu bohlam bernyala kuning. Kata orang setempat lampu bernyala putih hanya boleh digunakan untuk tempat-tempat yang dianggap suci. Seperti masjid, makam, dan tempat-tempat yang menjadi peninggalan sejarah pada kampung itu. Nyala putih adalah lambang kesucian. Sedang nyala kuning melambangkan manusia yang tak selamanya bersih, selalu ada baik-buruk menyertai. Begitu yang kudengar.
Aku melintasi Kampung Kerapuh ini berkendara motor bututku. Terang jalanan menggunakan lampu bernyala kuning. Sebuah kampung yang sejuk sebagaimana kampung-kampung di dekat pegunungan atau dipenunhi pepohonan yang rindang.
Riyani, belum sekali ini aku mengunjungi rumahmu sejak satu bulan yang lalu. Waktu kau mengenalkan aku pada orang tuamu sebagai kawan belajar sekaligus kawan mengajimu satu malam. Dan malam ini ingin aku mampir kembali sebagai kawan pula. Kawan yang ingin membersamaimu hingga maut menjemput. Kawan yang sedang menanti jawaban atas pengungkapanku kala itu.
Aku ucapkan salam di depan pintu setelah kuparkirkan motor bututku pada halaman rumahmu. Belum ada jawaban pula. Aku ucapkan salam yang kali kedua. Dan baru dengan salam yang ketiga kudapati jawaban di sisi lain pintu itu sebelum akhirnya menyerah pergi sebagaimana Burhanuddin al-Islam Al-Zarnuji dalam Talimul Al-Muta’alim ajarkan. Dibukanya pintu rumahmu dan aku dipersilakan masuk. Itu ibumu.
“Saya minta maaf, Bu. Berkunjung tanpa membawa suatu apapun.”
“Tidak mengapa. Kehadiranmu pun sudah membuat Ibu senang. Nanti saja kau bawa apa yang ingin kau bawa, juga sekalian ibu dan bapakmu kau ajak ke sini. Mau bertemu Riyani?”
Aku hanya tersenyum. Dia seakan tahu saja maksud kedatanganku, bersahut-sahutan dengan keheranan yang merasuk. Apa maksudnya ibu dan bapakku sekalian kubawa? Kuajak kemari? Kucium tangan ibumu dan dipersilakannya aku duduk.
Dia melangkah meninggalkanku seorang diri. Sepertinya hendak memanggilmu. Setelah beberapa lama, aku menyadari sepertinya kau belum mau, atau barangkali belum siap menemuiku. Lebih buruk lagi tidak lagi mau menemuiku. Apalagi setelah yang sudah kuungkapkan kepadamu, barangkali. Cepat-cepat kubuang prasangka itu. Mungkin kau sedang bersiap-siap.
Dari pintu yang kumasuki sebelumnya kudapati ayahmu yang baru pulang dari musola. Aku berdiri dan kujabatkan tanganku seraya mengucap salam kepadanya. Dia persilakan aku duduk kembali dan kami mengobrol bersama. Berhadap-hadapan dipisahkan meja kayu dari pangkal pohon jati yang terukir dan terpoles menjadi sedemikian rupa.
Kami saling bertanya kabar. Saling bertanya aktivitas keseharian dan, di sela percakapan itu ibumu datang menyuguhkan minuman. Teh yang hangat. Pas sekali dengan dinginnya malam ini. Aku pandangi lebih dalam ke ruangan yang lain dan kau belum juga keluar.
Melihatku mengintip ke dalam, ayahmu juga melakukannya sebentar. Kemudian memandangi aku.
“Bagaimana dengan usaha sayuran hidroponikmu?” tanya Ayahmu melanjutkan perbincangan.
“Alhamdulillah baik, Pak. Dan sekarang sudah stabil.” Meskipun aku mengobrol dengan ayahmu, dalam benakku masih juga menyimpan tanda tanya. Mengapa engkau belum juga keluar? Adakah engkau malu menemuiku? Ah, pikiran itu datang lagi.
“Keluarga Bapak itu sederhana, Mas. Kami tidak muluk-muluk untuk suatu hal yang tidak terlalu penting. Setidaknya penghidupan setiap hari ada. Apa yang kami pakai menutupi aurat kami, pun menjadikan kami sebagai orang yang sopan dan patut dpandangi. Apa yang kami makan setidaknya mampu mengenyangkan kami setiap harinya. Dan apa yang kami tinggali setidaknya mampu melindungi kami, memberikan rasa aman, dan membuat kami bisa beristirahat sebelum akhirnya beraktivitas kembali,” ayahmu menjelaskan.
Aku hanya mengangguk kemudian menunduk. Keheranan bertambah pula dalam diriku. Muncul pertanyaan lain. Mengapa ayahmu menceritakan perihal hidupnya dan keluarganya? Sedang tiada sepatah kalimat tanya kusampaikan pada dirinya. Sedang kau yang kunanti belum keluar juga. Oh, Riyani. Lama sekali kau. Ayahmu menambahkan lagi:
“Pada akhirnya, beristikamahlah kamu dalam beribadah kepada yang memberi hidup. Lakukan hal-hal yang baik. Jadikan setiap yang kamu lakukan bernilai pahala. Niscaya Allah memberikan kemudahan. Berusahalah. Berusahalah semampumu. Jangan lupa untuk bersyukur. Hari-hari yang dilanda wabah ini bisa kau jadikan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya.”
“Insyaallah, Pak. Insyaallah. Doakan saya,” jawabku singkat. Dan keherananku pun semakin menjadi-jadi. Kuminum kembali teh yang sudah mulai mendingin sembari kupandangi dinding rumah yang tergantung foto-foto keluargamu. Aku membayangkan suatu hari nanti foto kita bersama keluargamu dan keluargaku dapat berdampingan di atas sana.
Hari sudah semakin malam. Dan pada akhirnya kau pun tak juga keluar. Aku sangat menyayangkan. Habis sudah tehku. Aku pamit. Aku berdiri. Kuucapkan terima kasih. Ibumu turut menghampiri. Pada akhirnya aku tak bisa menemui kamu. Dan keheranan ini akan terus bersarang pada diriku tanpa sekali pun kudapati pencerahan. Mengapa, Riyani? Aku minta diri. Kujabat dan kucium tangan ayah-ibumu. Kusampaikan maafku telah merepotkan mereka. Dan mereka mengantarkan aku keluar rumahmu.
Di depan pintu, ayahmu mendekatiku. Keheranan itu kembali menghantui pikiranku. Sempat ingin kutanyakan. Namun, tak ada keberanian pada diriku. Ayahmu berbisik:
“Riyani suka kamu. Dia sudah cerita. Dan aku merestuimu.”
Masyaallah. Alangkah kagetnya aku. Seketika keheranan itu hilang dari pikiranku. Aku tersenyum bahagia. Kupandangi ayahmu dan ibumu yang juga tersenyum bahagia. Kujabat dan kucium kembali tangan mereka sebagai tanda hormatku setinggi-tingginya. Terima kasih kuucapkan kembali kepada mereka. Aku akan pamit membawa pengharapan. Tanpa keheranan, tanpa tanda tanya. Di depan rumahmu aku bersujud syukur. Lama kupejamkan mataku sembari tersenyum bahagia. Cukup lama hingga seseorang membangunkanku. Dan baru kutahu itu semua hanya mimpi dalam tidurku.
Penulis : Abdul Manan
Siluet wanita berjilbab. Photo by Idina Risk via pexels.com |
KOMENTAR